Aceh Sultanate

English (EN)

The Aceh Sultanate (also known as the Sultanate of Aceh Darussalam) was a powerful sultanate in northern Sumatra, flourishing from the 15th to the 20th centuries. It was one of the most important Islamic states in Southeast Asia.

The sultanate converted to Islam in the late 15th century. Under its most famous ruler, Sultan Iskandar Muda (reigned 1607-1636), Aceh reached its peak, controlling much of Sumatra and the Malay Peninsula. Aceh became a major center of Islamic scholarship and trade, producing pepper, tin, and gold.

Aceh was known for its fierce resistance to foreign powers. It fought against the Portuguese in the 16th century and engaged in a long, devastating war against the Dutch from 1873 to 1904 — the longest anti-colonial war in Indonesian history.

中文 (ZH)

亚齐苏丹国(又称亚齐·达鲁萨兰苏丹国)是苏门答腊北部的一个强大苏丹国,15至20世纪繁荣,是东南亚最重要的伊斯兰国家之一。

该苏丹国于15世纪末皈依伊斯兰教。在其最著名的统治者苏丹·伊斯坎达尔·慕达(1607-1636年在位)领导下,亚齐达到鼎盛,控制了苏门答腊大部分地区和马来半岛。亚齐成为伊斯兰学术和贸易的重要中心,生产胡椒、锡和黄金。

亚齐以激烈抵抗外国势力而闻名。它在16世纪与葡萄牙人作战,并于1873年至1904年与荷兰人进行了一场长期、毁灭性的战争——这是印尼历史上最长的反殖民战争。

Bahasa Indonesia (ID)

Kesultanan Aceh (juga dikenal sebagai Kesultanan Aceh Darussalam) adalah kesultanan yang kuat di Sumatra utara, berkembang dari abad ke-15 hingga ke-20. Ini adalah salah satu negara Islam terpenting di Asia Tenggara.

Kesultanan ini masuk Islam pada akhir abad ke-15. Di bawah penguasanya yang paling terkenal, Sultan Iskandar Muda (memerintah 1607-1636), Aceh mencapai puncaknya, menguasai sebagian besar Sumatra dan Semenanjung Malaya. Aceh menjadi pusat utama ilmu pengetahuan Islam dan perdagangan, menghasilkan lada, timah, dan emas.

Aceh dikenal karena perlawanan sengitnya terhadap kekuatan asing. Itu berperang melawan Portugis pada abad ke-16 dan terlibat dalam perang panjang dan dahsyat melawan Belanda dari tahun 1873 hingga 1904 — perang anti-kolonial terpanjang dalam sejarah Indonesia.

知识关联